It's all about me. aku adalah aku, yang kadang aku pun tak mengerti siapa aku, bagaimana aku dan apa mauku.
Selasa, 06 September 2011
Flat
Ya Alloh...kenapa aku selalu merasa kalo hidupku terasa "flat". Datar dan menetes. Sebenarnya apa yang membuat aku selalu merasa seperti itu. Aku bersyukur ya Alloh atas semua rezeki yang Kau berikan. Aku tidak pernah kekurangan materi dan pekerjaanku juga lancar2 saja. Tp entahlah... aku selalu merasa stag pada keadaan sekarang. Merasa ilmu ku tidak termanfaatkan dengan baik dan merasa bahwa aku sangat membutuhkan seseorang disampingku. Arrgggghhh....
Label:
Rajutan
Berasa "Sakit Jiwa"
Sudah satu minggu ini aku keranjingan Suju. Sebenernya dah agak lama suka suju, tp baru beberapa hari ini aku bener2 sukaaaa...aaa banget liat aksinya Super Junior. Kadang ngerasa sakit jiwa. Bayangkan aja, dalam waktu ber jam jam aku betah banget di depan laptop untuk ngelihat video aksinya Suju. Dan itu ku ulang-ulang berkali-kali untuk lagu yang sama. Busyet dah... Ditambah lagi, dikantor masih juga searching fakta2 tentang masing-masing personilnya. Duh ABG banget ga sih gw. Itulah yang kubilang, kadang aku ngerasa sakit jiwa. Hahahahaha.... Oh ya, ditambah lagi belakangan juga keranjingan nonton serial korea. Pas liburan lebaran kemarin, beberapa kali aku tidur jam 5 pagi karena nonton melodrama korea. Hmmm...jadi inget kesan pertama nonton winter sonata pas jaman kuliah. Oh God.... virusku makin akut nih kayaknya. Biasanya sih aku kalo suka sama sesuatu akan hilang dengan sendirinya. Tp ga tahu nih virus korea kapan hilangnya. Hehehehe... Let's we see
Label:
Rajutan
Selasa, 12 Juli 2011
Arrrrgggghhhh
Ya Alloh....aku bosen banget dengan hidupku. Bukannya aku udah bosen hidup tapi aku perlu suatu nuansa yang berbeda untuk mengisi hari-hariku. Kadang akau sangat merindukan saat2 sibuk ketika masih jadi staf di Bombana. Dulu, jangankan berkeluh kesah, rasanya waktuku yang 24 jam sehari saja kurang. Pulang kantor sudah capek dan masih banyak yang harus dilakukan. Selebihnya, aku tinggal istirahat tanpa sempat berpikir yang macam2. Sekarang???? Arrrrggghhhh....rasanya waktuku berjalan sangaaaaat lambat. Ditambah lagi kesendirian tanpa orang yang disamping. Hfffhh.... sedih banget rasanya. Ga da suami, jauh dari orang tua dan keluarga, teman dekat dah pada nikah serta ga da kerjaan yang bisa membuatku melupakan semua. Ah...kapan semua ini harus berakhir. Sering aku merasa sangat ingin menangis, tapi aku tak bisa melakukannya. Air mata ini tidak mau keluar. Cuma hatiku yang merasa semakin nelangsa dengan semua kondisi yang aku alami kini. Ya Alloh... kuatkan aku ya Rabb.
Label:
Rajutan
Minggu, 20 Maret 2011
tak seperti dulu...
Sejak tahun 2000, aku secara tak sengaja mulai mengenal tarbiyah yang dipelopori oleh PKS. Tahun demi tahun aku bergabung dalam kegiatan partai ini. Bahkan pada waktu aku di Bombana, aku tergolong aktif sekali dalam kegiatan partai ini, maklumlah jumlah anggota partai di Kabupaten itu sangat minim sehingga mau tak mau aku selalu dilibatkan. Tapi entah mengapa, kini aku merasa ada yang hilang. Bahkan aku sudah mulai meragukan visi misi yang dibawa oleh partai yang aku kagumi dulu. Entah mengapa, sekarang aku merasa bahwa PKS sudah tidak seperti dulu. Mungkin hal itu memang benar, tapi mungkin juga karena sekarang aku lebih banyak tahu sehingga baru sekarang aku ngerasa seperti itu. Atau mungkin juga malah aku yang sudah tidak seperti dulu. Yang jelas dalam sisi hatiku yang terdalam, rasa respect ku pada partai ini sudah sangat jauh berkurang. Sampai sekarang aku masih percaya bahwa politik itu kotor dan orang2 baik yang berada di dalamnya yang setiap hati di elus2 dengan rayuan duniawi, bukan tidak mungkin akan terpengaruh juga. Seperti sekarang yang aku rasakan, aku semakin merasa bahwa PKS sudah mulai masuk wilayah politik praktis. Walaupun alasannya membuka diri, tapi aku pribadi tetap tidak setuju. Masa sebuah partai islam mau menerima anggota orang non islam walaupun alasannya itu adalah sasaran dakwah. Satu lagi hal yang selalu aku perhatikan adalah ketika terjadi pilkada di suatu daerah. Kenapa sekarang kesannya orang PKS itu haus kekuasaan. Duh, kenapa sekarang PKS jadi seperti ini ya? Belum lagi konflik2 internal yang terjadi yang semakin memperburuk citra PKS. Sebenernya dah lama banget aku pengen keluar dari PKS. Liqo sekarang juga dah males. Ga tau dah liqo ku masih dapat pahala ga kalo aku seperti ga pernah ikhlas untuk datang ke majelis itu. Seolah ada pertentangan batin dalam hatiku. Sebenernya aku dah males liqo tapi di satu sisi aku tahu kalo kadang kala liqo bisa menyirami ruh kita. Ahhh...aku ga tahu harus gimana. ??????
Label:
Rajutan
Rabu, 16 Maret 2011
Jodoh Tak Kunjung Datang
Ada saat-saat ketika resah tak menemukan jawabnya. Ada saat-saat ketika gelisah tak menemukan muaranya kecuali dengan menikah. Di saat kesendirian tak sanggup kita tanggungkan, sementara peristiwa suci itu tak datang-datang juga, ada yang perlu kita renungkan dengan hati yang jernih; "kesendirian yang panjang itu, apakah sebabnya sehingga tak kunjung berakhir?"
Ada yang tak bisa kita jawab, karena semua rahasia ada dalam genggaman-Nya. Tetapi ada satu hal yang bisa kita coba telusuri diam-diam, dengan hati yang tenang dan jiwa yang bersih. Kita mencoba merenung sejenak secara jujur, apakah lambatnya jodoh itu merupakan ujian atas ketakwaan kita yang tinggi kepada-Nya, sebagai teguran atas kekhilafan-kekhilafan -dan bahkan mungkin kesombongan kita– terhadap apa yang diberikan Allah kepada kita, ataukah jodoh sesungguhnya belum saatnya tiba. Bukankah segala sesuatu ada masanya sendiri? Bukankah kematian juga tidak datang pada saat yang sama, usia yang sama dan keadaan yang sama untuk setiap orang?
Cobalah bertanya sejenak pada suara nuranimu, tanpa perlu menitikkan airmata duka. Kalau malam telah lelap, dan suara-suara telah sunyi, renungkanlah dengan jernih apakah jodoh yang tak datang-datang itu untuk menakar keimanan kita kepada-Nya? Apakah jodoh yang tak datang-datang itu sebagai kesempatan dari Allah agar kita menyiapkan bekal yang lebih sempurna untuk memenuhi amanah sebagai istri dan ibu atas anak-anak yang kita lahirkan kelak?
Cobalah untuk bertanya. Cobalah! Cobalah! Dan tahanlah dulu kerisauan itu...
By M. Fauzil Adhim
Ada yang tak bisa kita jawab, karena semua rahasia ada dalam genggaman-Nya. Tetapi ada satu hal yang bisa kita coba telusuri diam-diam, dengan hati yang tenang dan jiwa yang bersih. Kita mencoba merenung sejenak secara jujur, apakah lambatnya jodoh itu merupakan ujian atas ketakwaan kita yang tinggi kepada-Nya, sebagai teguran atas kekhilafan-kekhilafan -dan bahkan mungkin kesombongan kita– terhadap apa yang diberikan Allah kepada kita, ataukah jodoh sesungguhnya belum saatnya tiba. Bukankah segala sesuatu ada masanya sendiri? Bukankah kematian juga tidak datang pada saat yang sama, usia yang sama dan keadaan yang sama untuk setiap orang?
Cobalah bertanya sejenak pada suara nuranimu, tanpa perlu menitikkan airmata duka. Kalau malam telah lelap, dan suara-suara telah sunyi, renungkanlah dengan jernih apakah jodoh yang tak datang-datang itu untuk menakar keimanan kita kepada-Nya? Apakah jodoh yang tak datang-datang itu sebagai kesempatan dari Allah agar kita menyiapkan bekal yang lebih sempurna untuk memenuhi amanah sebagai istri dan ibu atas anak-anak yang kita lahirkan kelak?
Cobalah untuk bertanya. Cobalah! Cobalah! Dan tahanlah dulu kerisauan itu...
By M. Fauzil Adhim
Selasa, 15 Maret 2011
Beeeeeeeetttteeeeeeeeeeeeeeee......
Ih...bete deh. Apa semua cowok tuh kayak gitu ya. Ga nyadar banget sih kalo sebenernya aku maunya sama dia. Aku kan pengen lebih lama bareng-bareng dia. Kalo bukan karena itu, untuk apa coba aku nolak tawaran naik terios. Padahal kalo sama dia aku cuma rela naik motor vega R. Huuuh jauh banget kan bedanya. Tapi kenapa tuh anak ga ngerti juga sih. Sebel! Ya gini nih kalo sama anak kecil. Tapi kan umurnya dah 25 tahun ini, tapi kenapa otaknya masih polos gitu sih. Aaaaaarrrrgggghhhhhh....... Itulah kenapa aku bener2 jaga hati ini untuk ga bener2 suka sama dia. Tapi kan cinta itu ga ada aturannya. Kapan saja dan dengan siapa saja kita bisa jatuh cinta. Tapi kalo model orang yang gw cintai ga pengertian gitu, yah ampun deh. Dia baik, sholeh, rajin, tapi ya itu deh...kadang kala aku berpikir kalo jalan pikirannya masih seperti anak kecil. Bukan aku yang sok dewasa, tapi emang seperti itu kenyataannya. Gw yang punya ati udah deg-degan ga karuan, eh si empunya ga ngerasa. Dia nyadar ga sih kalo aku kadang suka cari perhatian sama dia? suka curi2 waktu untuk sekedar lihat dia di ruangannya. Ahhhh...kok feelingku dia ga ngerasa apa-apa ya? Secara gw 3 tahun lebih tua dari dia, kayaknya dia hanya nganggap aku kakak dan ga lebih. Anggapan kakak kayaknya juga berlebihan, dia manggil aku "mbak" kan karena umurku emang jauh lebih tua dari dia. AAaaarrrrrrrrhhhhhh...pokoknya aku bete bete bete.....suebellll.......
Label:
Rajutan
Senin, 14 Maret 2011
Jantung
Dah tiga kali aku ke dokter jantung. Alhamdulillah kondisi jantungku makin baik. Pada kunjungan pertama, aku dideteksi mengalami gejala penyempitan pembuluh darah. Selain itu, dari hasil lab juga dibilang ada sedikit gangguan pada hati dan infeksi saluran kencing. Duh pokoknya shock deh waktu itu. Kayaknya banyak banget penyakitku. Ujung2nya aku dikasih obat dan disuruh diet dengan berbagai larangan untuk makan ini itu. Kini setelah sebulan berlalu, kondisi jantungku mengalami peningkatan. Alhamdulillah. Aku emang sengaja ga pernah cerita hal ini sama siapapun. Ga tau kenapa, tapi aku ga pengen aja cerita hal ini sama siapapun, apalagi sampai cerita ke orang tua di kampung. Beberapa temen yang sempet tanya cuma kujawab kalo aku mengkonsumsi obat sesak anafas. Dan karena aku sering sesak nafas jadi aku harus diet. Dah di warning dokter, begitu kilahku.Sempet juga sih bohong waktu dua minggu lalu aku mau ke dokter. Aku bilang aja ke dokter gigi. Kebetulan saat itu gigiku juga sedang sakit. Eh semalam ada yang ngeliat lagi pas aku mau ke dokter. Trus paginya dia nanya semalam aku kemana. Ku jawab aja ke dokter jiwa, ucapku sambil bercanda. Maafkan aku teman-teman yang ga pernah mau ngasih tau penyakitku. InsyaAlloh semua akan baik2 aja kok.
Label:
Rajutan
Minggu, 13 Maret 2011
sueeeebeeeeeellllllllllllllll
Aku suebeeeeeelllllllll
kenapa aku begitu sulit lepas dari masa lalu
Bahkan jarak ber mil-mil yang telah memisahkan tak pernah sanggup membuatku untuk benar-benar tak memperdulikannya.
Aaaarrrrrrrggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh..................
kenapa aku begitu sulit lepas dari masa lalu
Bahkan jarak ber mil-mil yang telah memisahkan tak pernah sanggup membuatku untuk benar-benar tak memperdulikannya.
Aaaarrrrrrrggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh..................
Label:
Rajutan
Kamis, 10 Maret 2011
Menyusun Sendiri Kebahagiaan Diri
Di sebuah kelas, seorang guru membagikan sebuah kertas mewarnai yang berisi gambar pemandangan beserta satu kotak crayon kepada anak-anak murid TK-nya. Untuk pembagian crayon, mereka tidak diberikan 12 jenis pinsil warna yang komplit. Tapi paling banyak hanya 8 warna. Tiap anak mendapat pensil warna berbeda-beda. Sengaja untuk memancing kreativitas anak.
Di antara murid-murid tersebut, terdapat 2 anak yang spesial di antara mereka. Kedua-duanya hanya memiliki warna hitam, putih, merah, kuning, dan biru. Kedua anak tersebut berbeda sikapnya saat bekerja mewarnai kertas tesebut.
Salah seorang dari mereka uring-uringan tidak mau mewarnai. "Bagaimana bisa mewarnai?", pikirnya. "Gambar matahari yang ada pada kertas tersebut, seharusnya diwarnai dengan warna oranye. Tapi aku tidak mendapati warna oranye di kotak crayon yang dibagikan. Gambar pepohonan seharusnya diwarnai dengan warna hijau. Tapi tidak ada warna hijau. Selain itu, tidak ada warna biru muda. Yang ada warna biru tua. Padahal aku ingin langit diwarnai dengan warna biru muda"
Anak tersebut begitu idealisnya. Ia tidak bisa menerima kekurangan-kekurangan yang ada. Akhirnya, alih-alih mewarnai, ia hanya merajuk diam tanpa melakukan apa pun. Ia hanya bisa iri atas teman lain yang memiliki pinsil warna yang lengkap.
Anak yang lain malah asyik mewarnai. Memang, warna yang tersedia tidak komplit. Tapi itu tidak menghalanginya untuk mendapatkan keasyikan dari aktifitas mewarnai. Ia cukup cerdas mengakali kekurangan warna tersebut. Untuk mewarnai gambar matahari, mula-mula ia beri warna kuning. Lalu warna kuning itu ia timpa dengan warna merah. Hasilnya, warna oranye yang cerah untuk matahari.
Begitu juga untuk warna pepohonan, mula-mula ia beri warna biru, lalu ia campurkan dengan warna kuning sehingga membentuk warna hijau. Lalu untuk warna langit, mula-mula ia beri warna biru tua. Setelah itu ia goreskan pinsil warna putih sehingga warna birunya sedikit memudar.
Saudaraku, setidaknya itu menggambarkan penyikapan insan atas apa yang diterimanya. Ada manusia yang sulit menerima kekurangan-kekurangannya. Ia menghabiskan waktunya untuk mengeluh karena tidak memiliki apa yang orang lain miliki. Ia mengeluh karena istri yang dimilikinya tidak cantik, atau gaji yang diterimanya tidaklah memadai, atau pekerjaan yang digelutinya tidak menyenangkan, dsb.
Insan model tersebut, adalah insan yang berkata, "Ah, andai gajiku lebih besar lagi, tentu aku bisa berinfak". "Ah, andai istriku cantik, tentu mudah untuk ghodul bashor." "Ah, andai pekerjaanku tidak terlalu sibuk, tentu aku bisa menghafal Al-Qur’an."
Orang seperti ini tidak bisa bahagia atas apa yang dimilikinya. Ia tidak mampu menyusun sendiri kebahagiaan dirinya. Dalam cerita di atas, orang seperti ini jauh berbeda dengan sikap anak yang kedua.
Bandingkan dengan sikap anak yang kedua. Ia adalah profil orang yang mampu menyusun sendiri kebahagiaan dirinya atas apa yang ia miliki. Ia tidak peduli dengan apa yang tidak dimilikinya, dan tidak peduli atas apa yang orang lain miliki. Orang seperti ini kebahagiaannya tidak bisa didikte oleh keterbatasan. Dengan apa yang dimilikinya, ia mampu menciptakan kebahagiaan.
Kebahagiaan terbentuk bukan tergantung dari keberadaan materi, tapi tergantung dari keberkahan materi. Sebuah materi menjadi berkah manakala ia memberikan manfaat bagi pemiliknya.
Aktivitas orang tipe kedua juga tidak bisa didikte oleh keterbatasan. Apabila ia ingin bersedekah tapi benar-benar tidak punya barang untuk disedekahkan, maka ia bisa melakukan sholat dhuha, atau ia bisa menawarkan tenaganya untuk membantu orang lain. Minimal, ia memiliki senyum untuk disedekahkan kepada orang lain.
"Bagi masing – masing ruas dari anggota tubuh salah seorang diantara kalian harus dikeluarkan sedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, Setiap tahmid adalah sedekah, Setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan untuk melakukan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat tercukupi dengan melakukan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR. Muslim)
Saudaraku, susunlah kebahagian sendiri atas apa yang kita miliki. :)
Sumber : blog tetangga sebelah
Di antara murid-murid tersebut, terdapat 2 anak yang spesial di antara mereka. Kedua-duanya hanya memiliki warna hitam, putih, merah, kuning, dan biru. Kedua anak tersebut berbeda sikapnya saat bekerja mewarnai kertas tesebut.
Salah seorang dari mereka uring-uringan tidak mau mewarnai. "Bagaimana bisa mewarnai?", pikirnya. "Gambar matahari yang ada pada kertas tersebut, seharusnya diwarnai dengan warna oranye. Tapi aku tidak mendapati warna oranye di kotak crayon yang dibagikan. Gambar pepohonan seharusnya diwarnai dengan warna hijau. Tapi tidak ada warna hijau. Selain itu, tidak ada warna biru muda. Yang ada warna biru tua. Padahal aku ingin langit diwarnai dengan warna biru muda"
Anak tersebut begitu idealisnya. Ia tidak bisa menerima kekurangan-kekurangan yang ada. Akhirnya, alih-alih mewarnai, ia hanya merajuk diam tanpa melakukan apa pun. Ia hanya bisa iri atas teman lain yang memiliki pinsil warna yang lengkap.
Anak yang lain malah asyik mewarnai. Memang, warna yang tersedia tidak komplit. Tapi itu tidak menghalanginya untuk mendapatkan keasyikan dari aktifitas mewarnai. Ia cukup cerdas mengakali kekurangan warna tersebut. Untuk mewarnai gambar matahari, mula-mula ia beri warna kuning. Lalu warna kuning itu ia timpa dengan warna merah. Hasilnya, warna oranye yang cerah untuk matahari.
Begitu juga untuk warna pepohonan, mula-mula ia beri warna biru, lalu ia campurkan dengan warna kuning sehingga membentuk warna hijau. Lalu untuk warna langit, mula-mula ia beri warna biru tua. Setelah itu ia goreskan pinsil warna putih sehingga warna birunya sedikit memudar.
Saudaraku, setidaknya itu menggambarkan penyikapan insan atas apa yang diterimanya. Ada manusia yang sulit menerima kekurangan-kekurangannya. Ia menghabiskan waktunya untuk mengeluh karena tidak memiliki apa yang orang lain miliki. Ia mengeluh karena istri yang dimilikinya tidak cantik, atau gaji yang diterimanya tidaklah memadai, atau pekerjaan yang digelutinya tidak menyenangkan, dsb.
Insan model tersebut, adalah insan yang berkata, "Ah, andai gajiku lebih besar lagi, tentu aku bisa berinfak". "Ah, andai istriku cantik, tentu mudah untuk ghodul bashor." "Ah, andai pekerjaanku tidak terlalu sibuk, tentu aku bisa menghafal Al-Qur’an."
Orang seperti ini tidak bisa bahagia atas apa yang dimilikinya. Ia tidak mampu menyusun sendiri kebahagiaan dirinya. Dalam cerita di atas, orang seperti ini jauh berbeda dengan sikap anak yang kedua.
Bandingkan dengan sikap anak yang kedua. Ia adalah profil orang yang mampu menyusun sendiri kebahagiaan dirinya atas apa yang ia miliki. Ia tidak peduli dengan apa yang tidak dimilikinya, dan tidak peduli atas apa yang orang lain miliki. Orang seperti ini kebahagiaannya tidak bisa didikte oleh keterbatasan. Dengan apa yang dimilikinya, ia mampu menciptakan kebahagiaan.
Kebahagiaan terbentuk bukan tergantung dari keberadaan materi, tapi tergantung dari keberkahan materi. Sebuah materi menjadi berkah manakala ia memberikan manfaat bagi pemiliknya.
Aktivitas orang tipe kedua juga tidak bisa didikte oleh keterbatasan. Apabila ia ingin bersedekah tapi benar-benar tidak punya barang untuk disedekahkan, maka ia bisa melakukan sholat dhuha, atau ia bisa menawarkan tenaganya untuk membantu orang lain. Minimal, ia memiliki senyum untuk disedekahkan kepada orang lain.
"Bagi masing – masing ruas dari anggota tubuh salah seorang diantara kalian harus dikeluarkan sedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, Setiap tahmid adalah sedekah, Setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan untuk melakukan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat tercukupi dengan melakukan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR. Muslim)
Saudaraku, susunlah kebahagian sendiri atas apa yang kita miliki. :)
Sumber : blog tetangga sebelah
Label:
Inspirasi
Minggu, 30 Januari 2011
Cemas
Ya Alloh...akhir2 ini aku khawatir dengan kesehatanku, terutama jantungku. Belakangan ini dada kiriku sering nyeri tiba-tiba tanpa alasan. Ga tau kenapa. aku takut kalo itu adalah gejala jantung koroner. Yah..tahu sendiri lah. Kan gaya hidupku selama ini kurang bagus. Dari dulu aku hobi banget sama gorengan. Itu kan sumber kolesterol banget. Selain itu aku juga kerasa agak sesak nafas gt deh, ga parah sih sesak nafasnya, cuma kalo nafas tuh rasanya ga plong aja gt. Duh...aku takut nih. belum sempet periksa sih. Lebih takutnya lagi, setelah baca artikel di internet, dikatakan kalo penyakit jantung bisa menyerang sewaktu-waktu dan pembunuh pertama di Indonesia. Duh...gw makin parno deh. Gw ga mau sakit jantung...gw ga mau mati muda...gw belum nikah...
Ya Alloh beri aku kesehatan donk. Please...
Ya Alloh beri aku kesehatan donk. Please...
Label:
Rajutan
Rabu, 26 Januari 2011
curhat 2
Hari ini sudah ada 2 orang yang mendoakan kalo dia jodohku. ah...aku tak mau takabur untuk mengatakan iya atau tidak. Sebagai cewek hampir 28 tahun, tentu saja aku berharap segera ketemu jodohku. Tapi mungkin bukan dia. Hmmmm....yang jelas sampai saat ini aku hanya menganggapnya teman.Sebenernya cuma satu hal yang kupikirin jika aku sama dia pada akhirnya berjodoh. Aku ga mungkin bisa cepet pindah jawa. Padahal aku sangat ingin dekat dengan ortuku tahun ini. Aku tahu ortuku sangat membutuhkan kehadiranku. Walaupun tidak selalu berada disamping beliau tapi ortuku akan lebih tenang kalo aku dah di jawa.
Hmmm....biarlah waktu yang membuktikan akhir dari kisah ini.
Hmmm....biarlah waktu yang membuktikan akhir dari kisah ini.
Label:
Rajutan
curhat 1
Perasaanku masih biasa aja ternyata. Hanya menganggap teman. Bahkan sering heran dengan apa yang dilakukannya. Kenapa hari ini dia mau-maunya nungguin aku pulang kantor sampai jam 6. Kenapa dia ga ngelongok ke ruanganku? Padahal aku yakin kalo dia juga tau kalo sebenernya aku cuma nonton serial korea di ruanganku. Lhah...kenapa dia ga ngajak pulang duluan dan rela nungguin sampai aku nongol diruangannya? Dan setelah aku tahu kalo dia masih nungguin aku, aku malah jadi ngerasa bersalah. Secara...kan yang nebeng aku, masa aku yang ditungguin. Ah...orang yang aneh...
Label:
Rajutan
Kamis, 20 Januari 2011
Langganan:
Postingan (Atom)