Minggu, 20 Maret 2011

tak seperti dulu...

Sejak tahun 2000, aku secara tak sengaja mulai mengenal tarbiyah yang dipelopori oleh PKS. Tahun demi tahun aku bergabung dalam kegiatan partai ini. Bahkan pada waktu aku di Bombana, aku tergolong aktif sekali dalam kegiatan partai ini, maklumlah jumlah anggota partai di Kabupaten itu sangat minim sehingga mau tak mau aku selalu dilibatkan. Tapi entah mengapa, kini aku merasa ada yang hilang. Bahkan aku sudah mulai meragukan visi misi yang dibawa oleh partai yang aku kagumi dulu. Entah mengapa, sekarang aku merasa bahwa PKS sudah tidak seperti dulu. Mungkin hal itu memang benar, tapi mungkin juga karena sekarang aku lebih banyak tahu sehingga baru sekarang aku ngerasa seperti itu. Atau mungkin juga malah aku yang sudah tidak seperti dulu. Yang jelas dalam sisi hatiku yang terdalam, rasa respect ku pada partai ini sudah sangat jauh berkurang. Sampai sekarang aku masih percaya bahwa politik itu kotor dan orang2 baik yang berada di dalamnya yang setiap hati di elus2 dengan rayuan duniawi, bukan tidak mungkin akan terpengaruh juga. Seperti sekarang yang aku rasakan, aku semakin merasa bahwa PKS sudah mulai masuk wilayah politik praktis. Walaupun alasannya membuka diri, tapi aku pribadi tetap tidak setuju. Masa sebuah partai islam mau menerima anggota orang non islam walaupun alasannya itu adalah sasaran dakwah. Satu lagi hal yang selalu aku perhatikan adalah ketika terjadi pilkada di suatu daerah. Kenapa sekarang kesannya orang PKS itu haus kekuasaan. Duh, kenapa sekarang PKS jadi seperti ini ya? Belum lagi konflik2 internal yang terjadi yang semakin memperburuk citra PKS. Sebenernya dah lama banget aku pengen keluar dari PKS. Liqo sekarang juga dah males. Ga tau dah liqo ku masih dapat pahala ga kalo aku seperti ga pernah ikhlas untuk datang ke majelis itu. Seolah ada pertentangan batin dalam hatiku. Sebenernya aku dah males liqo tapi di satu sisi aku tahu kalo kadang kala liqo bisa menyirami ruh kita. Ahhh...aku ga tahu harus gimana. ??????

Rabu, 16 Maret 2011

Doaku

Ya Alloh, jangan biarkan aku sendiri....

Jodoh Tak Kunjung Datang

Ada saat-saat ketika resah tak menemukan jawabnya. Ada saat-saat ketika gelisah tak menemukan muaranya kecuali dengan menikah. Di saat kesendirian tak sanggup kita tanggungkan, sementara peristiwa suci itu tak datang-datang juga, ada yang perlu kita renungkan dengan hati yang jernih; "kesendirian yang panjang itu, apakah sebabnya sehingga tak kunjung berakhir?"

Ada yang tak bisa kita jawab, karena semua rahasia ada dalam genggaman-Nya. Tetapi ada satu hal yang bisa kita coba telusuri diam-diam, dengan hati yang tenang dan jiwa yang bersih. Kita mencoba merenung sejenak secara jujur, apakah lambatnya jodoh itu merupakan ujian atas ketakwaan kita yang tinggi kepada-Nya, sebagai teguran atas kekhilafan-kekhilafan -dan bahkan mungkin kesombongan kita– terhadap apa yang diberikan Allah kepada kita, ataukah jodoh sesungguhnya belum saatnya tiba. Bukankah segala sesuatu ada masanya sendiri? Bukankah kematian juga tidak datang pada saat yang sama, usia yang sama dan keadaan yang sama untuk setiap orang?

Cobalah bertanya sejenak pada suara nuranimu, tanpa perlu menitikkan airmata duka. Kalau malam telah lelap, dan suara-suara telah sunyi, renungkanlah dengan jernih apakah jodoh yang tak datang-datang itu untuk menakar keimanan kita kepada-Nya? Apakah jodoh yang tak datang-datang itu sebagai kesempatan dari Allah agar kita menyiapkan bekal yang lebih sempurna untuk memenuhi amanah sebagai istri dan ibu atas anak-anak yang kita lahirkan kelak?

Cobalah untuk bertanya. Cobalah! Cobalah! Dan tahanlah dulu kerisauan itu...

By M. Fauzil Adhim

Selasa, 15 Maret 2011

Beeeeeeeetttteeeeeeeeeeeeeeee......

Ih...bete deh. Apa semua cowok tuh kayak gitu ya. Ga nyadar banget sih kalo sebenernya aku maunya sama dia. Aku kan pengen lebih lama bareng-bareng dia. Kalo bukan karena itu, untuk apa coba aku nolak tawaran naik terios. Padahal kalo sama dia aku cuma rela naik motor vega R. Huuuh jauh banget kan bedanya. Tapi kenapa tuh anak ga ngerti juga sih. Sebel! Ya gini nih kalo sama anak kecil. Tapi kan umurnya dah 25 tahun ini, tapi kenapa otaknya masih polos gitu sih. Aaaaaarrrrgggghhhhhh....... Itulah kenapa aku bener2 jaga hati ini untuk ga bener2 suka sama dia. Tapi kan cinta itu ga ada aturannya. Kapan saja dan dengan siapa saja kita bisa jatuh cinta. Tapi kalo model orang yang gw cintai ga pengertian gitu, yah ampun deh. Dia baik, sholeh, rajin, tapi ya itu deh...kadang kala aku berpikir kalo jalan pikirannya masih seperti anak kecil. Bukan aku yang sok dewasa, tapi emang seperti itu kenyataannya. Gw yang punya ati udah deg-degan ga karuan, eh si empunya ga ngerasa. Dia nyadar ga sih kalo aku kadang suka cari perhatian sama dia? suka curi2 waktu untuk sekedar lihat dia di ruangannya. Ahhhh...kok feelingku dia ga ngerasa apa-apa ya? Secara gw 3 tahun lebih tua dari dia, kayaknya dia hanya nganggap aku kakak dan ga lebih. Anggapan kakak kayaknya juga berlebihan, dia manggil aku "mbak" kan karena umurku emang jauh lebih tua dari dia. AAaaarrrrrrrrhhhhhh...pokoknya aku bete bete bete.....suebellll.......

Senin, 14 Maret 2011

Jantung

Dah tiga kali aku ke dokter jantung. Alhamdulillah kondisi jantungku makin baik. Pada kunjungan pertama, aku dideteksi mengalami gejala penyempitan pembuluh darah. Selain itu, dari hasil lab juga dibilang ada sedikit gangguan pada hati dan infeksi saluran kencing. Duh pokoknya shock deh waktu itu. Kayaknya banyak banget penyakitku. Ujung2nya aku dikasih obat dan disuruh diet dengan berbagai larangan untuk makan ini itu. Kini setelah sebulan berlalu, kondisi jantungku mengalami peningkatan. Alhamdulillah. Aku emang sengaja ga pernah cerita hal ini sama siapapun. Ga tau kenapa, tapi aku ga pengen aja cerita hal ini sama siapapun, apalagi sampai cerita ke orang tua di kampung. Beberapa temen yang sempet tanya cuma kujawab kalo aku mengkonsumsi obat sesak anafas. Dan karena aku sering sesak nafas jadi aku harus diet. Dah di warning dokter, begitu kilahku.Sempet juga sih bohong waktu dua minggu lalu aku mau ke dokter. Aku bilang aja ke dokter gigi. Kebetulan saat itu gigiku juga sedang sakit. Eh semalam ada yang ngeliat lagi pas aku mau ke dokter. Trus paginya dia nanya semalam aku kemana. Ku jawab aja ke dokter jiwa, ucapku sambil bercanda. Maafkan aku teman-teman yang ga pernah mau ngasih tau penyakitku. InsyaAlloh semua akan baik2 aja kok.

Minggu, 13 Maret 2011

sueeeebeeeeeellllllllllllllll

Aku suebeeeeeelllllllll
kenapa aku begitu sulit lepas dari masa lalu
Bahkan jarak ber mil-mil yang telah memisahkan tak pernah sanggup membuatku untuk benar-benar tak memperdulikannya.
Aaaarrrrrrrggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh..................

ga jelas

Kuingin dicintai bukan di khianati
ku ingin di sayangi bukan diberi mimpi
berikanlah kasihmu bukan kasih yang semu
Bila tak ada arti biarlah ku melangkah sendiri...

Kamis, 10 Maret 2011

Menyusun Sendiri Kebahagiaan Diri

Di sebuah kelas, seorang guru membagikan sebuah kertas mewarnai yang berisi gambar pemandangan beserta satu kotak crayon kepada anak-anak murid TK-nya. Untuk pembagian crayon, mereka tidak diberikan 12 jenis pinsil warna yang komplit. Tapi paling banyak hanya 8 warna. Tiap anak mendapat pensil warna berbeda-beda. Sengaja untuk memancing kreativitas anak.

Di antara murid-murid tersebut, terdapat 2 anak yang spesial di antara mereka. Kedua-duanya hanya memiliki warna hitam, putih, merah, kuning, dan biru. Kedua anak tersebut berbeda sikapnya saat bekerja mewarnai kertas tesebut.

Salah seorang dari mereka uring-uringan tidak mau mewarnai. "Bagaimana bisa mewarnai?", pikirnya. "Gambar matahari yang ada pada kertas tersebut, seharusnya diwarnai dengan warna oranye. Tapi aku tidak mendapati warna oranye di kotak crayon yang dibagikan. Gambar pepohonan seharusnya diwarnai dengan warna hijau. Tapi tidak ada warna hijau. Selain itu, tidak ada warna biru muda. Yang ada warna biru tua. Padahal aku ingin langit diwarnai dengan warna biru muda"

Anak tersebut begitu idealisnya. Ia tidak bisa menerima kekurangan-kekurangan yang ada. Akhirnya, alih-alih mewarnai, ia hanya merajuk diam tanpa melakukan apa pun. Ia hanya bisa iri atas teman lain yang memiliki pinsil warna yang lengkap.

Anak yang lain malah asyik mewarnai. Memang, warna yang tersedia tidak komplit. Tapi itu tidak menghalanginya untuk mendapatkan keasyikan dari aktifitas mewarnai. Ia cukup cerdas mengakali kekurangan warna tersebut. Untuk mewarnai gambar matahari, mula-mula ia beri warna kuning. Lalu warna kuning itu ia timpa dengan warna merah. Hasilnya, warna oranye yang cerah untuk matahari.

Begitu juga untuk warna pepohonan, mula-mula ia beri warna biru, lalu ia campurkan dengan warna kuning sehingga membentuk warna hijau. Lalu untuk warna langit, mula-mula ia beri warna biru tua. Setelah itu ia goreskan pinsil warna putih sehingga warna birunya sedikit memudar.

Saudaraku, setidaknya itu menggambarkan penyikapan insan atas apa yang diterimanya. Ada manusia yang sulit menerima kekurangan-kekurangannya. Ia menghabiskan waktunya untuk mengeluh karena tidak memiliki apa yang orang lain miliki. Ia mengeluh karena istri yang dimilikinya tidak cantik, atau gaji yang diterimanya tidaklah memadai, atau pekerjaan yang digelutinya tidak menyenangkan, dsb.

Insan model tersebut, adalah insan yang berkata, "Ah, andai gajiku lebih besar lagi, tentu aku bisa berinfak". "Ah, andai istriku cantik, tentu mudah untuk ghodul bashor." "Ah, andai pekerjaanku tidak terlalu sibuk, tentu aku bisa menghafal Al-Qur’an."

Orang seperti ini tidak bisa bahagia atas apa yang dimilikinya. Ia tidak mampu menyusun sendiri kebahagiaan dirinya. Dalam cerita di atas, orang seperti ini jauh berbeda dengan sikap anak yang kedua.

Bandingkan dengan sikap anak yang kedua. Ia adalah profil orang yang mampu menyusun sendiri kebahagiaan dirinya atas apa yang ia miliki. Ia tidak peduli dengan apa yang tidak dimilikinya, dan tidak peduli atas apa yang orang lain miliki. Orang seperti ini kebahagiaannya tidak bisa didikte oleh keterbatasan. Dengan apa yang dimilikinya, ia mampu menciptakan kebahagiaan.

Kebahagiaan terbentuk bukan tergantung dari keberadaan materi, tapi tergantung dari keberkahan materi. Sebuah materi menjadi berkah manakala ia memberikan manfaat bagi pemiliknya.

Aktivitas orang tipe kedua juga tidak bisa didikte oleh keterbatasan. Apabila ia ingin bersedekah tapi benar-benar tidak punya barang untuk disedekahkan, maka ia bisa melakukan sholat dhuha, atau ia bisa menawarkan tenaganya untuk membantu orang lain. Minimal, ia memiliki senyum untuk disedekahkan kepada orang lain.

"Bagi masing – masing ruas dari anggota tubuh salah seorang diantara kalian harus dikeluarkan sedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, Setiap tahmid adalah sedekah, Setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan untuk melakukan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat tercukupi dengan melakukan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR. Muslim)

Saudaraku, susunlah kebahagian sendiri atas apa yang kita miliki. :)

Sumber : blog tetangga sebelah