Syukur, kata yang begitu mudah kita ucapkan tetapi teramat sulit kita amalkan dalam setiap denyut nadi kita. Setidaknya itulah hal yang sering aku rasakan. Hingga beberapa waktu yang lalu aku tersadar bahwa aku telah begitu mengesampingkan sebuah kata sederhana itu.
Sebagai seorang PNS di sebuah lembaga pemerintah yang tidak tergantung pada maraknya otonomi daerah dewasa ini, kadang aku merasa sangat tidak bersyukur. Bukan aku sombong, tapi boleh dikata prestasi akademikku dari sekolah sampai kuliah bisa di bilang di atas rata-rata. Dan entah kenapa ketika aku sudah kerja yang notabene ditempatkan di sebuah daerah luar jawa yang jauh dari peradaban, aku jadi semakin sering membandingkan apa yang telah aku raih saat ini dengan teman-teman sekolahku yang notabene prestasinya berada di bawahku.
Makanya aku sering heran kenapa banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi PNS,. Padahal apa sih yang menggiurkan dari jabatan PNS itu?? gaji pas-pasan, kalau tidak mau di bilang kecil. Mungkin juga orang memburu PNS hanya karena mengejar status, dimana untuk daerah luar jawa seperti daerah dimana aku ditugaskan sekarang, status sebagai PNS itu dianggap sebagai status terhormat. Tapi yah begitulah aku, dengan segala rasa tidak bersyukurku. Bahkan kadang aku pengen bekerja di swasta dengan alasan agar aku lebih bisa mengaktualisasikan diri. Apakah salah? kurasa tidak juga. karena aku merasa bahwa sebagai PNS, aktualisasi diriku kurang. Mungkin juga hal itu terjadi karena aku ditempatkan di sebuah kabupaten yang kalo boleh dibilang sangat terbelakang.
Hingga saat itu tiba. dimana aku menjadi sangat bersyukur telah menjadi seorang PNS. Walaupun aku harus ditempatkan jauh dari orang tua dan jauh dari peradaban. Gaji yang dulu kubilang pas pasan, kini mendadak menjadi sangat besar dimataku.
Dari seseorang yang dengannya aku telah bisa menjadi sangat bersyukur karena statusku kini sebagai PNS. Walaupun waktuku bersama dia demikian singkat dan demikian tak terduga, ternyata ada satu hal besar yang akhirnya berubah dari hidupku. Dia tak pernah mengajariku dengan kata-kata, tapi kisah hidupnya telah menohokku terlalu dalam, sehingga aku menjadi sangat malu pada Dia yang telah memberiku segala nikmat yang sedang kurasakan sekarang.
Untuk seorang teman, yang pernah memberiku perasaan lebih dari seorang teman, doaku selalu menyertai setiap langkahmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar