Kamis, 27 September 2012

Curhat Galau Seorang Dia

Hari ini aku pengen cerita tentang kejadian semalem. Apaan tuh? Yak, semalem seorang teman lama yang berada nun jauh disana menelponku. Sebenernya ga ada yang spesial dengan telpon dari dia. Cuma aku ngerasa ada yang beda aja. Ups, jangan negatif thinking dulu. Ngerasa spesial bukan berarti dia itu pesial ya? Mungkin bahasa yang tepat bukan spesial tapi "heran". Heran karena itu anak tiba2 telpon utntuk sesuatu yang ga pernah aku sangka. Dia curhat kepadaku sodara-sodara. hahahaha.... Ternyata semalem dia sedang galau dan dia mencari seseorang yang bisa diajak ngobrol, walaupun itu jauh. Dan akulah yang terpilih jadi seseorang yang harus mendengar kisahnya. Sebenernya sih cerita dia ga jauh dari urusan cinta dan wanita. Klasik. Cowok galau, apalagi kalo bukan karena seorang wanita. Dan semalem, rasanya aku jadi penasehat percintaan. Jiaaah...sorry ya, kamu salah orang sepertinya. Penasehat mu ini baru tau teori tapi prakteknya masih nol besar. Aku dan dia emang dah deket dari dulu. Mungkin lebih tepatnya akrab kali ya. Selama ini dia udah kuanggap jadi adek ku sendiri. Dengan tugas tambahan jadi guardian angel ku di mess, waktu aku masih di kendari. Jiah...guardian angel?? Ini guardian angel dalam arti sebenarnya ya. Kan udah ku bilang jangan berpikiran negatif dulu dengan istilah-istilah yang kupakai di tulisan ini. Ok, balik lagi ke guardian angel. Pasti ada alasan dong kenapa aku nganggap dia guardian angel. Karena pada saat aku di kendari (saat itu aku tinggal di rumah dinas, sendiri), cuma dia satu2 nya orang yang selalu kumintain tolong apapun. Mulai dari bantuin benerin listrik, nitip beli makan sampe nebeng kalo ke kantor. Sebenernya dia bukan satu2nya cowok yang tinggal di mess. Cuma aku selalu merasa lebih nyaman kalo minta tolong ke dia. Terlebih lagi, dia orangnya selalu ringan tangan dan hampir tidak pernah menolak kalo aku mintain tolong. Kalopun dia nolak, pasti ada alasan yang sangat kuat atas penolakkanya itu. Dan sekarang setelah aku pindah ke Jakarta hampir setahun, tiba2 dia telpon untuk curhat tentang kegalauannya. Dan tak terasa semalam telponnya lebih dari satu jam. Pada saat aku masih di kendari, hanya sesekali aku dan dia ngobrol serius yang sampai lama gitu. Itupun biasanya ngobrolin cewek. Duh jadi inget, selama aku di kendari, masalah tuh anak ga pernah jauh2 dari masalah cinta dan perempuan dan itu semua tidak lepas dari perhatianku. Dari dia pacaran sama anak baru dari Jakarta yang penempatan sultra, terus dia pacaran lagi sama orang Kendari dibelakang orang jakarta itu, terus dia putus sama orang jakarta itu, terus dia pendekatan lagi sama adik salah satu pegawai di kantor dan ga disetuhui sama kakak dan orang tua tuh cewek. Semua kisah cinta yang ga jelas juntrungannya dan sempat menghebohkan orang kanto itu semua tak lepas dari perhatianku sebagai seseorang yang merasa diriku sebagai seniornya. Dan dengan nyamannya aku ngomelin dia karena semua kisah yang dia buat itu. Kenapa aku harus ngomelin dia? Apa pasal? Sebenernya sebagai seorang kakak, aku ga ingin ikut campur tentang masalah seseorang terlalu jauh. Tapi pada akhirnya aku ngerasa perlu klarifikasi tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mengingat sampai saat itu, aku mendengar cerita banyak versi dari berbagai pihak. Dan semuanya memojokkan dia. Disamping itu, semua temen2 di kantor "nyuruh" aku untuk memarahi dan menasehati dia, mengingat bahwa aku satu2nya senior yang dianggap deket dengan dia. Duh kalo ngingat hal itu, rsanya pengen kujitak lagi anak itu. Menasehatin dia itu rasanya sesuatu banget. Bukan sesuatu gimana tapi ngeyelnya itu lho. Anaknya sih kecil, tapi ngeyelnya minta ampun. Ditambah kadang2 aku juga ga paham sama maksud pembicaraannya. Hahahaha....Itu juga yang kualamai semalam. Kadang emang klo ngobrol bareng dia tuh kadang ga nyambung. Berasa roaming gt. Kadang aku ngerasa, ini dia yang obrolannya ga nyambung ato aku yang daya dong nya rendah ya? Hahahaha.... Yah anggap aja deh itu resiko ngobrol sama anak kecil. Duh sok tua gue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar